Kekerasan Orang Tua Terhadap Anak Bisa Membuatnya Lakukan Hal Serupa

Kekerasan Orang Tua Terhadap Anak Bisa Membuatnya Lakukan Hal Serupa Ilustrasi kekerasan pada anak/ covesia

Covesia.com - Sebagai orangtua, tanpa disadari anda mungkin pernah melakukan kekerasan pada anak anda. Atau, anda sendiri mungkin pernah mengalami kekerasan saat anda masih kecil. Dampak kekerasan ini bisa berkepanjangan, bahkan bisa memengaruhi bagaimana anak anda mengasuh anaknya kelak.

Kekerasan pada anak bukan hanya meliputi kekerasan fisik atau pelecehan seksual, tapi bisa lebih dari itu. Perilaku penelantaran orangtua terhadap anaknya juga termasuk salah satu bentuk kekerasan pada anak.

Berikut ini merupakan bentuk-bentuk kekerasan pada anak, disadur covesia dari laman hellosehat:

  • Kekerasan emosional. Kekerasan pada anak tidak hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga bisa dalam bentuk yang menyerang mental anak. Meremehkan atau mempermalukan anak, berteriak depan anak, mengancam anak, mengatakan bahwa ia tidak baik atau anak buruk, termasuk kontak fisik (seperti memeluk dan mencium anak) yang jarang diberikan orangtua pada anak, merupakan contoh-contoh dari kekerasan emosional pada anak.
  • Penelantaran anak. Kewajiban orangtua adalah memenuhi kebutuhan anaknya. Tidak menyediakan kebutuhan dasar anak, seperti makanan, pakaian, kesehatan, dan pengawasan, termasuk dalam bentuk penelantaran anak. Seringkali, perilaku ini mungkin tidak disadari.
  • Kekerasan fisik. Terkadang, mungkin orangtua dengan sengaja melakukan kekerasan pada anak dengan maksud untuk mendisiplinkan anak. Namun, cara untuk mendisiplinkan anak sebenarnya tidak selalu harus menggunakan cara-cara fisik yang menyakitkan anak.
  • Kekerasan seksual. Ternyata, kekerasan atau pelecehan seksual tidak hanya dalam bentuk kontak tubuh. Tapi, mengekspos anak pada situasi seksual atau materi yang melecehkan secara seksual walaupun tidak menyentuh anak, termasuk dalam kekerasan atau pelecehan seksual.

Apakah anak korban kekerasan akan menjadi orangtua yang seperti itu juga?

Tidak menutup kemungkinan bahwa anak yang pernah mengalami kekerasan atau pelecehan bisa menjadi orangtua yang melakukan kekerasan/ pelecehan semacamnya kepada anaknya kelak. Bahkan, siklus ini sangat mungkin terjadi. Penelitian telah menunjukkan bahwa sekitar sepertiga dari anak korban kekerasan dapat menjadi pelaku kekerasan di kemudian hari.

Penelitian juga mengungkapkan terdapat beberapa faktor yang dapat mendukung hal ini. Faktor utama yang ditemukan adalah:

  • Kekerasan dilakukan sejak dini
  • Kekerasan dilakukan dalam waktu yang lama
  • Kekerasan dilakukan oleh orang yang berhubungan dekat dengan korban, misalnya orangtua
  • Kekerasan yang dilakukan sangat berbahaya bagi anak
  • Kekerasan terjadi dengan suasana emosional dingin di lingkungan keluarga

Seringnya, anak korban kekerasan menanggulangi traumanya dengan cara menyangkal bahwa ia telah menerima kekerasan atau dengan cara menyalahkan dirinya sendiri. Alasan untuk menerapkan kedisiplinan sering digunakan untuk melakukan kekerasan pada anak, sehingga perlakuan ini dibenarkan oleh orangtua dan anak. Padahal, seharusnya tidak.

Pada akhirnya, anak yang pernah mengalami kekerasan saat kecil tidak dapat melihat bagaimana seharusnya orangtua mengasihi dan memperlakukan anaknya dengan baik. Sehingga, kemungkinan besar ia akan tumbuh dengan kemampuan “menjadi orangtua” yang kurang atau buruk. Orangtua korban pelecehan saat anak ini hanya tahu cara membesarkan anak dengan cara seperti bagaimana ia dibesarkan.

Mungkinkah anak korban kekerasan tumbuh sebagai orang dewasa antikekerasan?

Ya, tidak selamanya anak korban kekerasan menjadi orangtua yang juga melakukan kekerasan kepada anaknya kelak. Ada juga anak korban kekerasan yang menyadari bahwa apa yang ia terima bukanlah hal baik. Sehingga, pada akhirnya ia termotivasi untuk tidak melakukan hal yang sama seperti yang ia terima dan justru lebih melindungi anak-anak mereka dari kekerasan.

Anak korban kekerasan harus diberi tahu bahwa apa yang ia terima merupakan hal yang salah dan tidak baik dilakukan, sehingga ia tidak akan berlaku seperti itu kepada siapapun. Anak juga tidak boleh disalahkan terhadap kekerasan yang diterimanya, sehingga trauma anak tidak bertambah buruk dan lebih cepat pulih.

Banyak korban yang dapat mengatasi traumanya dengan dukungan emosional dari orang terdekat atau terapi keluarga, sehingga mereka menyadari bahwa kejadian ini tidak boleh terulang lagi. Anak korban kekerasan bisa diedukasi, diberikan pendampingan, dan terapi untuk memulihkan kondisi psikisnya.

Saat sudah memasuki usia dewasa, anak korban kekerasan juga bisa mengikuti kelas parenting dan kelompok pendukung pengasuh untuk belajar bagaimana cara baik mengasuh anak.

(sea)

Baca juga: Tolak Mengemis, Ibu Tega Rantai Anak Kandung di Padang