Anak Susah Makan? Coba Gunakan Trik ini

Anak Susah Makan Coba Gunakan Trik ini ilustrasi

Covesia.com - Umumnya, kesulitan makan dialami setelah anak-anak menginjak usia satu tahun. Pada usia tersebut, pertumbuhan anak melambat jika dibandingkan masa sebelumnya. Hal ini juga menurunkan selera makan. Sehingga sering kali yang tampak adalah anak makan lebih sedikit.

Mengenali permasalahan kesulitan makan

Saat anak menolak untuk makan dan disikapi secara keliru oleh orangtua, hal tersebut dapat memicu suasana yang tidak menyenangkan dan penuh tekanan bagi kedua pihak. Itu sebabnya, keinginan orangtua dalam memberikan nutrisi terbaik harus diiringi dengan ketelitian melihat kondisi anak.

Berikut ini adalah beberapa permasalahan yang kerap timbul, berkaitan dengan perilaku sulit makan, dikutip covesia dari laman alodokter:

Menolak makan

Bagi anak, makan adalah keterampilan yang baru dikuasainya. Mengendalikan yang ingin dia masukkan ke mulut menjadi sangat penting. Tidak heran jika sebagian anak bisa menghabiskan yang disediakan oleh orangtua pada hari pertama, tapi menolak pada keesokan harinya. Ketika pikirannya berubah, maka demikian juga selera makannya.

Saran: Anak biasanya memakan apa yang dibutuhkan. Ketika selama satu hari, anak anda benar-benar menolak makan, jangan hilang kesabaran. Dibandingkan memusingkan diri dengan asupan kalori yang kurang selama hari itu, sebaiknya anda menghitung asupannya selama satu minggu sebelumnya. Kerap kali orang tua merasa terkejut bahwa asupan makanan anaknya sebenarnya sudah terpenuhi.

Hanya memilih makanan tertentu

Bagi anak-anak berusia tiga tahun ke bawah, mengonsumsi makanan padat adalah hal baru. Diperlukan waktu agar mereka terbiasa dengan ragam warna, rasa dan tekstur. Saat ini anak juga belajar untuk mandiri dan memutuskan pilihan sendiri, termasuk makanan apa saja yang masuk ke mulutnya.

Saran : Perkenalkan makanan yang baru secara perlahan. Setelah disajikan beberapa kali, anak biasanya tertarik untuk mengonsumsinya. Sayuran merupakan salah satu jenis makanan yang kerap ditolak anak. Sajikan satu jenis sayuran saja, agar anak tidak kebingungan. Upayakan waktu makan tidak berdekatan dengan waktu tidur, karena rasa lelah juga dapat memengaruhi keengganan anak mencoba makanan baru.

Hanya mau makanan cepat saji

Makanan siap saji yang sangat disukai anak biasanya yang mengandung gula atau lemak tinggi, dengan kandungan gizi yang rendah. Seperti, permen, kentang goreng, atau minuman bersoda.

Saran: Jangan menyimpan makanan cepat saji di rumah anda. Sediakan makanan yang lebih sehat yang dapat lebih mudah diraihnya. Sajikan buah melon dengan campuran yogurt, atau jus buah yang dihiasi stroberi atau irisan pisang di atasnya. Pisang atau ubi yang dikukus juga bisa menjadi alternatif pengganti kentang goreng.

Menolak makan setelah kemarin banyak makan

Hal ini sangat umum pada anak usia 12 bulan hingga tiga tahun. Menurut ahli nutrisi, orang tua tidak perlu membesar-besarkan hal ini. Anak-anak mampu mengenali rasa lapar, terkadang lebih baik dibandingkan orang dewasa. Ada kalanya selera makan anak tampak besar, kemudian terjadi sebaliknya di keesokan hari. Hal ini sangat wajar.

Saran: Orangtua sebaiknya menghindari menyiksa diri untuk memaksa anak makan pada saat ini. Tentukan batas waktu untuk anak anda mengonsumsi makanan yang telah disediakan. Minta anak untuk makan tidak melebihi batas waktu yang telah anda tentukan.

Makan satu jenis makanan saja

Bukan sesuatu yang aneh jika tiba-tiba anak anda selama beberapa hari atau hitungan minggu, hanya mau makan satu jenis makanan saja. Salah satu alasannya adalah anak tertarik dengan makanan yang rasanya sudah dia kenali. Hanya saja, pola konsumsi seperti itu sering kali membuat orangtua kebingungan.

Saran: Orangtua sebaiknya tetap tenang dan tetap menawarkan pilihan makanan lain, tanpa memaksa. Untuk anak yang sudah lebih besar, anda dapat mengatur strategi dengan mengajaknya ke supermarket. Minta dia untuk memilih dua jenis buah, dua jenis sayur, atau satu jenis camilan. Setiba di rumah, ajak dia menyiapkan makanan sebelum mengonsumsinya.

Menolak makanan/minuman favorit secara tiba-tiba

Bisa saja sayuran menjadi salah satu jenis makanan yang lahap dimakan si kecil, namun pada suatu hari dia tiba-tiba menolak. Atau mungkin anak tiba-tiba tidak lagi mau minum susu yang biasa dikonsumsi tiap hari.

Saran: Jangan panik, hal tersebut mungkin hanya sementara. Namun bisa menjadi masalah, jika orangtua salah menanggapinya. Saat anak menolak hari ini, maka bukan berarti dia tidak akan suka selamanya. Tetap tawarkan makanan yang ditolak anak pada hari berikutnya. Jika anak menolak minum susu, sebaiknya orang tua memberikan asupan gizi yang mengandung susu, seperti yogurt atau keju. Atau jika anak menolak sayur, seimbangkan asupan nutrisi dari buah-buahan untuk sementara.

Membuat suasana makan yang menyenangkan

Bagi anak-anak, makan termasuk dalam proses pembelajaran dan eksplorasi. Untuk membantu menerbitkan selera makan anak, orang tua dapat melakukan kegiatan seperti:

  • Mengadakan acara makan keluarga dengan rutin. Biarkan anak melihat anda mengonsumsi beragam jenis makanan dan berkomentar positif terhadapnya
  • Biasakan waktu makan yang konsisten, yaitu tiga kali waktu makan utama dan dua kali makan camilan tiap hari. Batasi waktu sekitar 30 menit untuk tiap waktu makan
  • Biarkan anak makan dengan mandiri. Buat makanan praktis yang dapat dipegang dan dimasukkan ke dalam mulut anak dengan mudah
  • Berikan hanya 1-2 jenis makanan pada anak saat makan. Berikan dalam porsi kecil
  • Gunakan perlengkapan makan dengan gambar dan warna-warni menarik
  • Mengundang anak-anak lain untuk makan bersama. Anak-anak cenderung makan lebih banyak ketika bersama teman sebaya
  • Jauhkan televisi, permainan, binatang peliharaan dan hal-hal yang memengaruhi perhatiannya saat makan
  • Libatkan anak-anak saat memproses makanan yang dihidangkan. Mulai dari membeli, membersihkan hingga memasak dan menyajikan untuk mendorongnya lebih berselera

Untuk memastikan kecukupan gizi anak, orang tua dapat membuat catatan. Tulis seluruh makanan dan minuman yang dikonsumsi anak selama seminggu. Periksa apakah anak telah menerima asupan dari empat kelompok gizi utama yaitu karbohidrat, protein, produk susu, buah dan sayuran. Jika anak anda masih mengonsumsi makanan dari tiap kelompok gizi tersebut, maka anda tidak perlu khawatir.

Namun, bila anda masih belum yakin terhadap asupan gizi anak atau menyebabkan berat badan anak sulit bertambah, maka disarankan bagi anda untuk berkonsultasi langsung kepada ahli gizi atau dokter spesialis anak.

(sea)