Belajar dari Gagasan Kebangsaan dan Semangat Nasionalisme Kartini

Ila Sean | Jumat, 21-04-2017 | 11:55 WIB
Belajar dari Gagasan Kebangsaan dan Semangat Nasionalisme Kartini
ilustrasi RA Kartini

Covesia.com - Di Indonesia, setiap tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Mungkin banyak mengenal sosok Kartini sebagai tokoh emansipasi perempuan.

Padahal, perjuangan Kartini lebih luas dari itu. Pergerakan kebangsaan dan kebangkitan nasional Indonesia banyak dipengaruhi ide-ide Kartini. Bahkan, beberapa tahun sebelum berdirinya Boedi Oetomo dan gagasan-gagasan tentang kebangsaan Jawa muncul dari tokoh-tokohnya, terutama dari Soetomo dan Wahidin Soedirohoesodo.

Kartini telah mengungkapkan gagasannya tentang kebangsaan, sebagaimana dipaparkan Doktor Dri Arbaningsih dalam buku Kartini dari Sisi Lain: Melacak Pemikiran Kartini tentang Emansipasi "Bangsa".

Menurut Dri, bangsa yang dimaksud Kartini ketika itu adalah pengertian rasa berbangsa orang Jawa sebagai rakyat yang memiliki bahasa, wilayah, dan budaya.

Jadi, Jawa dalam pengertian ini bukan sebatas pada pemahaman sebagai rakyat tanpa identitas. Pada tahun 1903, misalnya, Kartini telah menggunakan istilah nasion, yang membuat banyak pelajar Stovia (Sekolah Dokter Pribumi) terbakar semangat nasionalismenya.

Pelajar Stovia bersama Kartini dan Roekmini secara informal membentuk komunitas Jong Java. Dalam suratnya kepada seorang pelajar Stovia, Kartini mengingatkan bahwa mereka adalah 'Jong Java', bangsa Jawa, yang berkewajiban mencerdaskan rakyat yang miskin dan bodoh agar mampu setara dengan Belanda.

Tanpa kesepakatan dengan para pelajar Stovia bahwa sesungguhnya mereka adalah 'Jong Java', dengan segala kewajibannya itu, barangkali tidak akan pernah ada Boedi Oetomo pada tahun 1928, Sarekat Islam pada tahun 1911, Perhimpunan Indonesia pada 1922, Sumpah Pemuda pada tahun 1928, partai-partai dan organisai pemuda-pemudi, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, dan Deklarasi Djuanda pada tahun 1982 tentang batas wilayah laut Nusantara," ungkap Dri dalam sebuah kesempatan beberapa tahun lampau.

Sayangnya, dari sejarah yang sampai, seolah-olah yang berperan pada momen itu semuanya hanya lelaki, tidak ada perempuannya. Padahal, seperti diakui oleh Dokter Soetomo, Ketua Boedi Oetomo, dan teman-teman seperjuangannya pada masa itu, ide-ide Kartini memiliki peran besar dalam pergerakan kebangsaan Indonesia.

Kebesaran Kartini telah direduksi. Kemungkinan besar, persepsi yang melenceng itu terjadi karena orang-orang hanya mengenal sosok Kartini dari buku kumpulan surat-surat Kartini yang terkumpul di tangan Mr JH Abendanon, Direktur Pendidikan, Ibadah, dan Kerajinan Pemerintah Otonomi Hindia-Belanda (1900-1905), Door Duisternis tot Licht, yang terbit pertama kali pada April 1911, tujuh tahun setelah Kartini wafatnext

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Ragam

Komentar

Baca juga

Galeri Foto Terbaru Covesia.com

Hiburan

Foto Duta Reggae Indonesia Tampil di Panggung Utama Hongaria

Duta Reggae Indonesia Tampil di Panggung Utama Hongaria

Covesia.com - Ras Muhammad, penyanyi yang sering disebut sebagai duta reggae Indonesia, tampil di panggung utama festival reggae tahunan LB27 Reggae...

Ikuti Akun Flickr Covesia.com

Wawancara

Foto Hindari Masalah di Perbankan dan Pahami 'BI Checking' Dengan Benar

Hindari Masalah di Perbankan dan Pahami 'BI Checking' Dengan Benar

Covesia.com - Dunia perbankan sudah menjadi bagian dari rutinitas perekonomian di dunia. Setiap urusan keuangan nyaris tidak terlepas dari...

Website Monitoring