Ekonom: Kurs Rupiah Bisa Melamah ke Rp13.000

| Senin, 03-11-2014 | 21:56 WIB
Ekonom: Kurs Rupiah Bisa Melamah ke Rp13.000
Seorang bocah terkesima melihat petugas pengisian BBM di SPBU, Selasa (4/11/2014). (Muhammad Fitrah/covesia.com)

Jakarta - Ekonom senior Raden Pardede menilai

jika pemerintah salah mengambil respon kebijakan dalam mengantisipasi

tantangan ekonomi global pada 2015, maka kurs rupiah dapat melemah

hingga Rp13 ribu, atau jauh meninggalkan perkiraan pemerintah di APBN

2015 sebesar Rp11.900/dolar.

Pemerintah dan Bank Indonesia

perlu menggunakan bauran kebijakan moneter, fiskal, dan juga struktural,

agar tantangan global, yakni normalisasi ekonomi Amerika Serikat dan

pemulihan negara-negara maju lainnya, tidak membuat rupiah tepuruk, kata

Raden dalam sebuah seminar di Jakarta, Senin (3/11/2014). "Kita

cenderung bergantung pada moneter. Harusnya ada stabilisasi dari

kebijakan moneter, dan ada campuran kebijakan," ujar dia.

Saat ini, menurut dia, Indonesia berada dalam fase ekonomi menghadapi

tantangan hebat di depan, atau yang dia analogikan sebagai "angin

kencang". Angin ini datang setelah di 2008, Indonesia

mendapat "angin sejuk" yang membuat roda perekonomian melaju. Pada 2008,

Indonesia mendapat berkah setelah AS menggelontorkan stimulus, dan juga

harga komoditas global yang melambung.

Sedangkan di 2015,

ujar Raden, "angin kencang" itu utamanya akan dihembuskan oleh paket

normalisasi kebijakan ekonomi AS yakni penghentian gelontoran stimulus,

dan kenaikan suku bunga Bank Sentral AS, The Fed. Ilustrasinya, jika Bank Sentral AS atau The Fed menaikkan suku bunga

dari 0,25 persen sesuai skenario awal hingga 1,375 persen, maka investor

yang menanamkan modalnya di Indonesia akan memindahkannya ke Negeri

Paman Sam.

Dengan begitu, ujar Raden, cadangan devisa

Indonesia akan terkuras, karena tertekan oleh permintaan dolar AS yang

masih dibutuhkan untuk impor. "Sehingga kurs rupiah akan terus melemah," ujar dia. Selain AS, negara-negara maju lainnya, juga mulai menunjukkan pemulihan ekonomi, meskipun belum begitu stabil.

Raden menuturkan, bauran kebijakan diperlukan, agar dari sisi

moneter, rupiah dapat terus kuat, dan dalam sisi fiskal serta kebijakan,

negara memiliki Anggaran yang kebal, dari tekanan-tekanan. Salah satu caranya, sumber pembiayaan untuk defisit Anggaran dan program

pemerintah misalnya, harus diupayakan berasal dari dalam negeri, dengan

diversifikasi pasar keuangan. "Perlu ada protokol manajemen krisis memang," ujarnya.

Dengan berbagai upaya pemerintah dan otoritas moneter, Raden masihnext

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

ISL 2014

Komentar

Galeri Foto Terbaru Covesia.com

Sumbar Terkini

Hiburan

Foto Mick Jagger Miliki Anak ke-8 di Usia 73 Tahun

Mick Jagger Miliki Anak ke-8 di Usia 73 Tahun

Covesia.com - Vocalis Rolling Stones, Mick Jagger, kembali jadi ayah untuk kedelapan kalinya, Kamis waktu setempat, ketika pacarnya penari balet...

Ikuti Akun Facebook Covesia.com

Wawancara

Foto Implementasi Kebijakan Ekonomi di Tangan Jokowi-JK Belum Maksimal
Ekonom, Josua Pardede, M.Sc

Implementasi Kebijakan Ekonomi di Tangan Jokowi-JK Belum Maksimal

Covesia.com - Hari ini, Kamis (20/10/2016) tepat dua tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK). Sebanyak...

Website Monitoring