Tabuik Piaman Selayang Pandang

M.R Bagindo Mudo

*Pemerhati Pendidikan dan Kebudayaan

Sabtu, 01-11-2014
Tabuik Piaman Selayang Pandang

Suasana Pesta Hoyak Tabuik di tahun 2012 di Kota Pariaman. (Foto; Humas Pemko Pariaman)

"Pariaman tasabuik langang, Batabuik mangkonyo rami". Sepenggal bait tembang Minang terkenal ini, berarti: "Pariaman selalu dibicarakan lengang. Dengan Pesta Tabuik menjadi ramai".

Di daerah Pariaman, Sumatera Barat, terdapat suatu tradisi yang sangat unik dan langka yang hingga saat ini masih tetap eksis dilakukan oleh masyarakat setempat. Tradisi ini, bernama Pesta Tabuik. Tradisi ini berlangsung selama 10 hari di bulan Muharam dalam kalender Islam. Untuk melakukan tradisi walaupun butuh dana yang tidak sedikit. Namun semua itu tidak mematahkan semangat penduduk setempat terlebih anak nagari Pariaman.

Jadwal acara ini umumnya terbagi dua yaitu 5 hari pertama digunakan untuk membuat perangkat Tabuik, dan 5 hari berikutnya adalah periode pelaksanaan prosesi upacara Tabuik yang berakhir pada penghanyutan perangkat Tabuik di pantai Gondariah, Padang Pariaman.
Perayaan Tabuik di Pariaman berasal dari Bengkulu yang dibawa oleh bangsa Cipei atau Keling yang dipimpin oleh Imam Kadar Ali. Menariknya di Bengkulu acara yang sama kenal dengan Pesta Tabot. Bangsa Cipei itu sisa dari pasukan Inggris di Bengkulu. Sesuai dengan perjanjian antara Inggris dan Belanda yang dikenal dengan Traktat London tahun 1824, maka Belanda mengambil alih daerah Bengkulu dari tangan Inggris dan saat itu mereka terpecar-pencar bahkan ada yang sampai ke Pariaman.

Kemudian pembuatan dan pembinaan Tabuik di Pariaman dikembangkan oleh muridnya bernama Mak Sakarana dan Mak Sakaujana, merupakan orang yang mempelopori Tabuik Pasar dan Tabuik kampung Jawa. Tabuik Pasar melahirkan Tabuik Cimparuh, Bato dan Karan Aur, sedangkan Tabuik Kampung Jawa melahirkan Tabuik Pauh, Jati, Sungai Rotan.

Perkembangan selanjutnya adalah pada masa kolonial Belanda, perayaan Tabuik terus dipertahankan dan diadakan serta dijadikan permainan anak nagari. Hal ini terbukti dengan adanya kebijakan pemerintah kolonial Belanda memberi tempat pada adat istiadat dan budaya tradisional daerah seperti upacara Tabuik untuk terus berlangsung di masyarakat pribumi, dengan memberikan bantuan dan untuk penyelenggaraan upacara Tabuik. Pada masa kolonial Belanda perayaan Tabuik digalakkan sehingga Tabuik yang tampil sampai 12 buah.

Perayaan Tabuik pada masa itu bertujuan untuk menunjukkan kekuasaan. Melalui perayaan Tabuik akan terjadi perkelahian antara anggota Tabuik dan akhirnya mereka juga yang menyelesaikannya. Perayaan Tabuik dijadikannya sebagai media untuk mengadu domba rakyat sesuai dengan politik etisnya yaitu memecah belah bangsa Indonesianext

Galeri Foto Terbaru Covesia.com

KOMENTAR

Quote Hari Ini

"Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru. Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku. Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku. Sebagai prasasti terima kasihku. Tuk pengabdianmu"

Sartono

Website Monitoring