Berbisnis dari Hoax, Siapa Untung Siapa Rugi?

D.Dj. Kliwantoro

*LKBN Antara

Rabu, 15-03-2017
Berbisnis dari Hoax, Siapa Untung Siapa Rugi?

Ilustrasi (pixabay)

Covesia.com - Hoax (hoaks) sering sekali diartikan sebagai berita bohong yang sengaja disebar untuk dipercayai oleh orang banyak. Penyebaran hoaks plus peran ampuh media sosial ibarat api yang disiram bensin.

Agar terhindar dari jebakan hoaks, sebaiknya netizen mewaspadai apabila ada postingan dengan kata-kata seperti ini: "Katakan like atau amin jika doa Anda pada tahun ini diijabah."

"Makin banyak yang like dan comment maka nilai jual halaman itu akan makin tinggi," kata Ketua Badan Pengurus Cabang (BPC) Perhimpunan Hubungan Masyarakat Semarang Yanuar Luqman, pada seminar "Melawan Hoaks" di Semarang, awal pekan ini.

Selanjutnya, Facebook akan menghubungi akun orang yang populer tersebut dan izin untuk memasang iklan di halaman orang tersebut.

"Dia dapat uang dan keuntungan, sementara kita yang komentar mencaci maki sesama saudara sebangsa, malah menjadikan halaman dia makin populer. Kita kehilangan kewarasan, harga diri, dan persaudaraan. Kita dipecundangi," katanya lagi.

Yanuar menyebutkan di beberapa media sosial, seperti Facebook, kalau artikel atau postingan banyak di-"like", harga halaman tersebut menjadi mahal. Selanjutnya, akan banyak tawaran iklan di situ.

Beberapa orang yang pandai mencari peluang, menurut dia, biasanya akan membuat halamannya akan di-"like" banyak orang.

Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro Semarang itu lantas mengemukakan latar belakang netizen mempercayai hoaks, antara lain, keterbatasan informasi.

"Individu percaya hoaks bukan karena individu tersebut mudah dibohongi, melainkan karena keterbatasan informasi," kata Yanuar dalam seminar yang diadakan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) dan Yayasan Adi Bakti Wartawan (ABW).

Selain itu, tingkat popularitas informasi. Pemberitaan yang terus-menerus dan mencolok dapat menyebabkan mata (hati) seakan menjadi tertutup pada kebenaran yang ada.

Berikutnya, terkait dengan ketertarikan. Individu cenderung melakukan "selective attention" sehingga seseorang tidak begitu memperhatikan topik hoaks dan langsung percaya dengan hoaks.

"Hal lainnya, confirmation bias. Jika hoaks berkaitan dengan hal yang dipercayai, info palsu akan lebih mudah diterima," kata Yanuar Luqman di hadapan 100-an peserta seminar yang terdiri atas mahasiswa, wartawan, dan pengurus Yayasan ABW, serta undangan lain.

Melawan Hoaks

Sebelumnya, anggota DPD RI Bambang Sadono memandang perlu membentengi masyarakat dari berita hoaks dengan memberi pengetahuan yang cukup mengenai teknologi informasi plus segala aturan mainnyanext

Galeri Foto Terbaru Covesia.com

KOMENTAR

Quote Hari Ini

"Allah tidak melihat dengan rahmat-Nya pada orang yang menurunkan kainnya di bawah mata kaki karena sombong"

HR. Bukhari, Muslim

Website Monitoring